Ngomongin demo, inget demo-demo tahun 1998. Jelas gw jadi parno. Waktu itu gw masih sekolah dan perbendaharaan kata gw masih dikit. Tapi yang gw inget waktu itu adalah kata: “provokator” dan gw bertanya-tanya: “kalo orang pada ngikutin this so-called ‘provokator’, lantas apa bedanya provokator dengan pemimpin?” Beberapa tahun kemudian gw pun belajar kenyataan hidup yang menurut gw aneh: demonstran yang dibayar oleh pihak-pihak berkepentingan. Tapi , gw rasa itu bukan penyebab masyarakat demo tahun ini, karena gw yakin mereka yang demo untuk protes kenaikan BBM emang demo dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Ini soal taraf hidup rakyat. Boro-boro ikut ngerayain Hari Film Nasional. But I digress.
Bukan itu topik blog post kali ini. Gw cuman inget aja kejadian 1998 gara-gara lagi banyak demo dan gw mengalami akibat dari “herd mentality” dan “herd behavior” (walaupun, gw klarifikasi dulu: gw TIDAK mengatakan bahwa demo yang terjadi belakangan ini adalah akibat herd mentality, dan gw TIDAK menuduh siapapun provokator). Kenapa gw getol sekali melakukan klarifikasi? Karena blog post kali ini terkait erat dengan akibat dari komunikasi yang kurang jelas (dan secara nggak sengaja memberi terlalu banyak ruang bagi pihak penerima komunikasi ini untuk berimajinasi terlampau jauh).
Buat yang masih belum tahu “herd mentality” itu apa, silahkan baca di sini. Singkatnya:
Herd mentality describes how people are influenced by their peers to adopt certain behaviours, follow trends, and/or purchase items. Examples of the herd mentality include the early adopters of high technology products such as cell phones and iPods, as well as stock market trends, fashions in apparel, cars, home décor, etc. Social psychologists study the related topics of group intelligence, wisdom crowds, and decentralized decision making.
Friedrich Nietzsche, a philosopher who coined the phrase, perceived these two forms of subservience to be a weakness among the common man, and that the “Superman” as Nietzsche terms is the one who overcomes the values of the fallible herd. The term herd mentality is derived from the word “herd,” meaning group of animals, and “mentality,” implying a certain frame of mind. However the most succinct definition would be: how large numbers of people act in the same ways at the same times.
Saat gw berpikir mengenai “herd mentality”, gw cenderung berpikir ke arah perilaku konsumen (dan conspicious consumption) dan inget riot/mob (kerusuhan). Soalnya “herd mentality” ini seringkali disebut juga “mob mentality.” Herd mentality itu anaknya “herd behavior” (bedanya, “herd mentality” adalah fenomena yang secara eksklusif terjadi terhadap manusia sedangkan, herd behavior itu perilaku yang dapat kita temukan pada semua binatang sosial).
Manusia itu makhluk sosial. Dan by nature (maap, saya nggak tahu gimana cara nerjemahin “by nature”) manusia suka berkelompok dan menjadi “bagian dari sesuatu” (humans like being a part of something). Kita selalu pengen jadi bagian dari satu kelompok. Kalo istilah yang paling gw suka: “we like to feel like we belong”. Kayaknya, deep down, ada perasaan bahagia gitu di kala kita merasa sendiri (misalnya loe punya minat/rencana hidup yang tidak sesuai dengan pola hidup lingkungan sekitar, kasus ekstrem: pasangan yang tidak berminat punya anak) dan tiba-tiba ada gitu satu pasangan lain yang bilang, “ih gw juga!” Rasanya lega banget.
Ditambah lagi kita orang Indonesia dan masyarakat kita sangat komunal (takut berkonfrontasi karena nggak pengen ngerusak hubungan baik). Ampun, deh. Gw aja, nih, nggak salah apa-apa aja bisa minta maaf dan nawarin ngasih kompensasi, lho! Huwahahaha. Tipikal perilaku orang Indonesia banget, kan?
Oleh karena itu, entah sadar atau di bawah sadar, seringkali kita secara naluriah akan “buru-buru ikut” menyatakan kesetujuan demi melakukan validasi (entah secara internal maupun eksternal, atau dua-duanya) bahwa kita “setuju” atau sekedar menyatakan “saya juga”. Semua ini manusiawi.
When the Herd tries to hurt the Straw Man…
Pernah dengar istilah “straw man”? Menurut Wikipedia:
A straw man is a component of an argument and is an informal fallacy based on misrepresentation of an opponent’s position. (Bahasa Indonesia: Straw man adalah komponen dari argumen yang merupakan sebuah falasi informal berdasarkan misinterpretasi dari posisi lawan.)
Buat yang nggak tahu “falasi” itu apa, penjelasan yang cukup baik itu bisa dibaca di sini (penjelasan yang terdiri atas 3 poin dengan contoh ayam yang dikonsumsi manusia itu sangat mudah dimengerti dan cukup for most to get the point, tapi gw sarankan baca seluruh isi blog post itu, karena itu blog post yang bagus banget). Tapi jangan baca dulu kalo habis makan, ya…
Cara paling mudah untuk mengidentifikasi adanya straw man? Pokoknya rule of thumb-nya, kalo sampe ada yang ngomong/mikir, “Lha? Siapa juga yang bilang begitu?” Kemungkinan besar, Anda baru saja berhadapan dengan orang yang menjadikan kita/orang lain sebagai straw man.
Seringkali ada orang-orang yang terlampau cepat berkonklusi sehingga ada falasi dan terjadi ketegangan antar penuduh dan straw man. Apalagi kalo urusannya menyangkut SARA (terutama agama, karena biasanya orang udah sensi/emosi duluan tanpa menyisihkan waktu untuk mencerna informasi dengan benar). Contoh falasi terkait dengan diskusi SARA: Ada orang yang membahas “uang hasil korupsi untuk berangkat ziarah keagamaan” dan mempertanyakan “motivasi koruptor untuk berangkat ziarah keagamaan menggunakan uang hasil korupsi.” Pihak lain menjawab dengan mengatakan “jangan nyalahin ibadahnya, dong!” Padahal jelas-jelas TIDAK ADA ada yang “menyalahkan” ibadah tersebut, toh? Justru kita marah karena ada yang menyalahgunakan ibadah (yang dianggap mulia) untuk menutupi tindakan korup. Ini contoh kasus pemojokan orang lain sebagai straw man yang lumayan kejam dan sangat tidak adil.
Nah, kebayang nggak, sih, kalo ada sebuah orang yang menyerang sebuah falasi dengan semangat herd mentality ini? Gawat banget, kan? Apalagi “herd” itu menyangkut lebih dari satu individu and terkait dengan influence. Bikin gw pengen bilang, “nggak bisa gitu, dong!”

The Herd vs. The Fallacy
Seperti yang gw bilang di atas, blog post ini terinspirasi oleh kejadian di mana gw menjadi target herd mentality yang disebabkan oleh sebuah falasi: Jadi ceritanya gw lagi ngobrolin fenomena sosial yang [awalnya] menurut gw janggal (orang kaya yang pura-pura miskin, menurut gw ajaib karena biasanya di kota kayak Jakarta orang malah berperilaku sebaliknya). Ini topik hybrid antara sosiologi dan psikologi. Banyak, sih, yang share cerita/hasil observasi… Tapi yang bener-bener bisa menjelaskan sebabnya nggak banyak. Sebagai catatan, obrolan ini terjadi dalam bentuk tulisan (jadi urutan siapa yang ngomong apa duluan tercatat dengan tanggal/jam).
Salah satu peserta diskusi ngomong kalo dia pernah lihat ada orang dengan mobil dua pintu (entah coupé Jepang atau yang emang bener-bener Italian sports car, nggak jelas) tapi makannya di warteg. Kronologinya kira-kira (kurang lebih, nggak verbatim) seperti ini:
Posting X: “Mobilnya dua pintu tapi makan di warteg.”
Gw: “Gw nggak ngerti deh orang yang lebih mentingin gaya daripada kesehatan, menurut gw itu udah menjurus ke arah personality disorder.” (sebenernya maksud gw orang yang lebih seneng makan mie instan/pengawet berlebihan/pewarna tekstil di makanan demi bisa beli branded items, jalan-jalan ke Europe buat shopping mau tapi berobat ke Singapore ogah, pokoknya orang yang lebih concern dengan segala sesuatu yang bisa dilihat orang lain tapi malah nggak peduli apa yang masuk ke dalam tubuh dia). Tapi gw nggak pernah bilang “warteg itu jorok” atau “warteg itu nggak sehat” karena nyatanya, I eat at those places too (and believe me, when people try to apply street food to hotels, it NEVER works, I have never seen a success story with street food in hotels/fancy restaurants). Intinya gw pengen bilang “orang ini prioritas internal vs. eksternal-nya nggak proporsional/nggak wajar” dan perhatikan bahwa gw nggak pernah nyebut kata “warteg” sama sekali.
Posting A: Protes menyatakan ketidaksetujuan “pernyataan gw” bahwa “warteg itu nggak sehat”
Posting B: Setuju dengan A + menambahkan contoh
Posting C: Setuju dengan A
Posting D: Setuju dengan pernyataan A + tambahan opini
Posting E: Setuju dengan A
Posting F: Reaksi kurang lebih sama
Posting G: Reaksi yang juga mirip
Pokoknya urutannya kurang lebih gitu, deh. And boy did it make me look like the bad guy!
Supaya blog entry ini adil menunujukkan semua sisi, gw cuman pengen jujur dengan menyatakan bahwa:
- Gw memang salah karena menulis posting yang kurang jelas. Harusnya gw rinci apa maksud gw (mengenai mie instan, pewarna tekstil, dan keengganan untuk bayar biaya berobat yang rada mahal). Malah gw dengan malesnya cuman nulis “kesehatan”. Dan hari itu, gw posting dengan nggak jelas kayak gitu bukan di thread itu aja, tapi gw juga menyebabkan kesalahpahaman dengan pola yang rada mirip (nulis dengan poin loncat-locat dan tidak menjelaskan secara sistematis) di salah satu thread mengenai karir juga. I was generally absent-minded that day.
- Gw masih kurang ngerti gimana cara nulis “personality disorder” atau “mental illness” (dalam Bahasa Indonesia) dengan cara yang dapat dimengerti rata-rata orang dengan mudah, jadi bukan salah mereka kalo salah ngerti.
- Setelah gw posting hari itu, gw langsung ngejar deadline dan sempet nggak nge-check forum itu selama 1-2 hari.
Jadi, mengingat 3 poin di atas, bukan salah mereka juga kalo:
- Mereka salah paham, tapi gw sendiri yang menyebabkan adanya falasi mengenai opini gw terhadap warteg.
- Sampai sebanyak itu (5-10 orang) yang merespon gw secara negatif (karena kalo bukan karena gw ngilang sampe 1-2 hari, dan gw bales segera mungkin nggak akan lebih dari 5 orang yang respon gw). Tapi gw bisa jamin bahwa memang sebanyak itu yang respon (gw nggak nge-lebay-lebay-in cerita ini).
Jadi, gw sih nggak ada hard feelings dengan orang-orang terkait (nggak marah atau gimana), toh gw juga salah karena tidak berkomunikasi dengan sistematis dan jelas.
Memang wajar kalo ada satu orang yang diikuti orang-orang disekitarnya (kalau mau kembali merujuk ke teori binatang sosial, mereka disebut “Alpha“, entah “Alpha Male” atau “Alpha Female”). Baik itu sumber maupun orang yang sekedar komen (dan komen-nya disetujui yang lain).
Tapi ada satu kejanggalan dengan cerita ini yang bikin gw lumayan takjub, yaitu: Yang protes ke gw itu BUKAN merespon posting gw sendiri (sebagai oposan), melainkan memberi reaksi positif/reinforcement dari respon pertama yang menawarkan sebuah interpretasi (yang ternyata merupakan falasi) dari posting gw tadi. And next thing you know, terjadilah efek bola salju. Serangan terhadap gw makin kenceng… Padahal, apa sebenernya yang mereka serang? Wong, saya ndak pernah ngomong “warteg ndak sehat”. Ya, toh? Jadi mereka protes bukan berdasarkan sumber itu sendiri, melainkan misinterpretasi orang lain.
So, who’s the true Übermensch in this case? Makes you wonder…
Fenomena ini tentu nggak baru (maksud gw, bukan fenomena masyarakat yang reaktif, tapi polanya itu). Contoh: Gw nggak percaya sama iklan skin care, gw cari review-nya di beauty blog/forum, setelah baca apa yang dikatakan konsumen lain, gw baru beli. Bahkan udah beberapa minggu ini gw galau, mikir: “gw kok kalo di forum jadi bawaannya pengen belanja mulu, ya? Tapi kalo lihat dendongan di majalah nggak pengen beli… Kenapa, yah? Apakah ini peer pressure yang nggak gw sadari?” Tapi sebagai individu (sebagai manusia dan bukan korporasi), gw rada sulit menerimanya.
Regardless, karena kejadian ini, gw jadi mikir: Apakah pola herd mentality itu berbeda berdasarkan gender? Atau setidaknya terkait dengan gender? Soalnya kasus gw di atas (to my knowledge) melibatkan 100% perempuan. Secara pribadi, kalo dengar “peer pressure” gw mikirnya “cewek ABG”, kalo dengan “mob” atau “riot” mikirnya “cowok”. Maaf, ya, gw bukannya seksis, tapi itulah persepsi gw. Cuman gw jadi mikir aja, apakah ada hubungannya dengan gender?
Intinya: Tertekan oleh peer pressure dan keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu itu wajar dan manusiawi sekali. And contrary to popular belief, it has nothing to do with age! Mungkin “peer pressure” itu identik dengan ababil usia belasan. Kenyataannya? Orang-orang yang udah mapan dan berusia di atas 40 aja masih suka beli mobil simply karena tetangga sebelah baru beli. Dan nggak ngaruh juga level pendidikan kita apa, mau lulusan Ivy League, kek, mau kuliah di Oxbridge, kek, tetep aja kita makhluk sosial dan herd mentality itu natural. Biar IQ di atas standar Mensa juga kalo ternyata EQ jongkok, apa bisa survive sebagai makhluk sosial? Tapi, mentang-mentang ini perilaku manusia yang masih bisa dibilang wajar, bukan berarti naluri itu bisa selalu kita turutin. Apalagi sebagai orang dewasa yang bisa kita asumsikan punya self-control yang lebih canggih daripada anak-anak. Please read carefully and check your facts.
Sekarang pertanyaannya:
Kenapa penting untuk yakin dulu bahwa kita tidak sedang menyerang sebuah falasi?
Karena sebagai manusia, kita punya emosi. Dan kalo udah esmosi jiwa, yang keluar dari mulut kita bisa macem-macem. Dari yang sekedar kasar dan relatif harmless (kata-kata kebon binatang/panggilan asusila tanpa substansi) sampai yang bisa diperkarakan secara hukum (misalnya: pencemaran nama baik, atau sesuatu yang bisa bikin kita bertanggung jawab untuk membayar “moral and emotional distress damages”). Apalagi di kala pergaulan kita makin luas. Kalo di luar negeri, orang hire lawyer gampang bener: kayak kalo di sini kita manggil Mbok Pijet ke rumah saat masuk angin, lawyer-nya pake langganan pulak. Pergaulan makin luas, bukaan mulut pun harus makin sempit.
So, please, be careful and stay safe! And have a nice weekend, everybody.