Palet Warna

Palet Warna

Palet Warna

Gw kayaknya mau tutup Palet Warna untuk sementara (atau waktu yang nggak ditentukan) karena gw udah ngrerasa nggak nyaman dengan meng-endorse produk-produk yang gw nggak gitu yakin juga bagus atau enggak. Gw sempet kepikiran karena gw berniat ngasih info harga tentang Erha Clinic karena banyak banget yang nanya sama gw (yang untungnya nggak sempet gw lakukan karena gw selalu ada kerjaan lain yang harus lebih gw prioritaskan) karena ternyata Erha Clinic nggak sebagus yang gw pikir. Dan begitu gw coba lepas dari mereka, yang ada gw jerawat gw yang tingkat keparahannya hanya 3 dari skala 1-10, ternyata jadi 7 sejak gw coba berhenti. Dan dulu, kalo gw pake produk supermarket masih mempan, sekarang kulit gw cuman mau kompromi sama produk macem Clinique dan Biotherm. Perubahan kulit gw mengecewakan dan gw ngerasa sangat beruntung belum sempet secara nggak langsung “recommend” Erha dengan menjawab pertanyaan soal harga dalam satu blog entry khusus.

Tapi yang bener-bener bikin gw nyesel adalah…

Dalam salah satu review gw, gw sempet meng-endorse Erhalogy Eternalips (di sebuah review pada tanggal 4 Maret 2012). Gw ngerasa gw udah cukup lama pake untuk memberi opini yang adil dan akurat karena gw mulai pake produk itu tanggal 29 Januari 2012. Ternyata, sebelum tanggal 7 Mei 2012 aja tuh produk udah rada expired (teksturnya jadi encer kayak minyak goreng instead of kayak gel seperti sebelumnya). Padahal di kemasan tanggal expired yang dicetak di kemasan adalah 2013 (tapi nggak ada keterangan produk akan mulai expired berapa lama sejak dibuka). Dan begitu produknya berubah tekstur, yang ada bibir gw bisa kering dan pecah sampe berdarah-darah. Gw ngerasa jadi beauty blogger itu tanggung jawabnya terlalu gede karena gw ngebahas substansi yang ditempel ke kulit orang dan bisa meresap ke dalam tubuh dan mempengaruhi body image. Nggak bisa dianggep enteng. Nggak bisa diperlakukan kayak hal sepele. Nggak bisa nggak di-handle dengan bertanggung jawab. Nggak bisa gitu, dong…

Side note: Indonesian Fashion & Beauty Blog Directory tetep jalan dan kalo mau minta didaftarkeun, monggo. Tapi, eike secara pribadi cuman udah nggak sreg aja sama beauty blogging.

Jujur aja, gw nggak tahu Palet Warna mau gw apain sekarang. Mungkin gw jadiin tempat nulis opini tentang beauty industry, mungkin gw akan nulis review tanpa recommendation, mungkin gw bisa specialize di produk lokal atau produk yang lebih affordable (walaupun gw tahu udah ada yang lebih ahli nulis tentang budget beauty dan gw nggak ada apa-apanya dibanding beauty blogger yang udah duluan ada), mungkin gw bisa nulis artikel/feature tanpa meng-endorse produk tertentu. Nggak tahu, gw juga nggak gitu punya waktu. It’s too time consuming and I don’t really get anything from blogging about beauty products as I don’t have much to share (I don’t have skills to share through tutorials and I have been “marketing” products for companies only to realize they’re not that great). Apalagi gw sama pasangan gw commit untuk tetep anonim, sedangkan being anonymous is really hard when you’re trying to run a beauty blog. Ujung-ujungnya gw cuman ngasih swatch di lengan gw (gambar di atas), padahal di mana-mana aplikasi di muka sama di kulit tubuh kan beda… Mungkin gw sekedar belum siap, karena mau expose skill juga, skill gw nggak belum ada. Mau nggak mau, gw pasti fokus ke produk.

Gw jadi inget banyak contoh orang yang nggak bertanggung jawab: Misalnya selebriti (“selebriti”, ya, belum tentu “artis”) yang sepenuhnya sadar kalo dia seorang public figure yang punya influence, tapi tetep jadi model iklan dengan tidak bertanggung jawab (misalnya dia jadi model iklan produk yang ditargetkan ke age bracket yang tidak tepat karena dia sendiri sebenernya masih terlalu muda untuk pake produk itu, atau dia memparah standar kecantikan yang nggak realistis dengan Photoshop berlebihan atau simply karena dia tahu warna kulit ideal yang dia iklankan itu bukan warna kulit alami yang dimiliki oleh mayoritas penduduk suatu negara), atau gourmet chef yang jadi bintang iklan produk ber-MSG (yummyyy…). Rasanya kayak bikin film sampah. Belum lagi kalo nulis tentang produk yang gw tahu nggak semua orang mampu beli, kayak jualan barang tapi nawarin ke orang yang sebenernya nggak mampu… Nggak sampe hati gw. Bikin orang pengen yang enggak-enggak, dan siapa yang untung? Pengusaha. Lagian gw bukan tipe orang yang mendapatkan kepuasan batin dari nunjukin gw mampu beli sesuatu yang nggak semua orang mampu beli, so why rub it in people’s faces? And I’m not like that. So please feel free to unfollow me. No hard feelings.

Mungkin blog gw akan buka lagi, mungkin enggak. Gw pusing sama tanggung jawabnya… Gw masih bingung soal etika (“etika/ethics”, ya, bukan “etiket/etiquette”). I’m way too old to get away with being irresponsible. I stopped caring whether people like me, I’m more concerned about doing the right thing.

Posted in Blog | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Dear Ratu Adil…

Hidup di Jakarta ini rasanya kayak jidat semua orang ada label harganya. Kadang gw bertanya-tanya menurut orang-orang harga gw berapa…

Memang, orang jarang melihat gw dengan merendahkan (karena gw middle class, rajin mandi, most of the time gw bisa membawa diri dengan baik, I demonstrate decent taste, dan jarang melakukan faux pas, so I tend to bore the fashion police). Gw selalu berusaha nggak nge-judge orang karena gw tahu hidup ini nggak hitam-putih kayak sinetron. Kalo ada yang kelakuannya menurut gw nyebelin/norak/nyakitin atau nemu manusia yang nafsu pamernya masih tinggi banget, gw berusaha mengerti bahwa mungkin upbringing dia ajaib atau dia kurang kasih sayang (that’s why I said, “Gw yang [katanya] kebarat-baratan, tapi kok jadi loe yang Salah Asuhan?”). Tapi tetep, lho, kadang gw ngelihat cara orang memperlakukan nge-judge orang miskin, memperlakukan waiter, merendahkan/mengejek PRT miris banget, ya… Biar yang diejek bukan gw kok rasanya sakit, gitu…

Di sisi lain, gw masih ada respek terhadap orang yang mau terang-terangan mengakui bahwa dia menganggap materi itu penting (ya, iya, lah… Kalo enggak, gimana mau nyekolahin anak). Jadinya kan dia jujur dan nggak munafik (walaupun kadang gw berharap mbok ya nggak usah pake “justifikasi mulia”, if you don’t mean it… Justru mendingan jujur murni).

But there’s a fine line between being “brutally honest and realistic” and being “downright cruel and shallow”.

Kadang alesan orang suka nggak logis: orang ngeluh karena dia “harus cuci piring”, ngeluh “karena nggak kuat bayar nanny gw harus ngurus anak gw sendiri dititip ke neneknya”. Ya kalo Anda ndak pengen punya anak, ya jangan punya anak. Kan ada kontrasepsi… Gw juga rencananya nggak akan punya anak, kok. Santai aja. Waktu gw ama Bokap-Nyokap gw tinggal di luar negeri, kapan kita punya house staff dan nanny? People have unbelievably unreasonable standards, and they’re so quick to judge anyone who can’t help but not live up to those standards.

It’s so cruel to me that I can’t even joke about it with our usual “nggak bisa gitu, dong!” meme. Kadang gw ngelihat gimana kejamnya hidup suka sensi sendiri, mikir: kira-kira mereka nge-judge gw dengan cara yang sama, nggak, kalo gw lagi nggak denger? Mungkin orang yang suka menilai orang lupa bahwa mereka dinilai oleh manusia lain juga…

I’ve never been so grateful about my upbringing and I haven’t been able to appreciate upbringing until now. My caretakers did a good job educating me. And I’m not just talking about the manners. They could’ve created a bitch but they didn’t. OTOH, ya gw bisa apa kalo anak orang “isinya” emang “cuman segitu” aja? Whatever, lah. It’s none of my business. Selama mereka nggak hina gw, it’s none of my business. Kalo mereka nulis hal-hal kejam begitu, gw nggak usah baca. Kalo mereka ngomong, gw tinggal sumpel earphone atau beranjak. Mudah, kan? Kalo kata Gus Dur, “gitu aja kok repot?”

Gimana kalo kita jadi cashless society dan orang berhak mendapatkan keinginan dengan poin berdasarkan merit? Tiap orang lahir dengan 0 poin. Semua manusia dipasangin alat yang mirip dengan lie detector, tapi bisa mendeteksi apakah kita melakukan hal baik dengan tulus apa enggak. Nanti alat ini akan mencatat “digital karma points”. Digital karma points ini akan menjadi alat transaksi. Terus ada level yang menunjukkan seberapa baik hati dan tulus orang itu, tiap naik level, mereka bisa unlock perks (dapt hak/izin untuk nyalon, ke spa, vacation).

Perhitungan berdasarkan apa yang terdeteksi di hati dan bukan di otak. Biar IQ loe di bawah 90 (metally challenged), kalo loe baik hati dan EQ loe berfungsi dengan baik, loe akan “kaya”. Kalo loe anggota Mensa tapi hati loe busuk, loe akan “miskin”.   Tapi semua orang akan dapet pendidikan gratis. Profesi guru itu akan jadi profesi yang paling menguntungkan karena bisa mendatangkan banyak digital karma. Orang-orang yang hatinya busuk akan keliatan karena mereka nggak akan punya materi dan kelihatan nggak terawat.

How about it, Ratu Adil? Nek ‘ra gelem, yo wis… I can always make a deal with The Devil…

Posted in Tak Habis Pikir | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Ever heard of the “herd mentality”?

Ngomongin demo, inget demo-demo tahun 1998. Jelas gw jadi parno. Waktu itu gw masih sekolah dan perbendaharaan kata gw masih dikit. Tapi yang gw inget waktu itu adalah kata: “provokator” dan gw bertanya-tanya: “kalo orang pada ngikutin this so-called ‘provokator’, lantas apa bedanya provokator dengan pemimpin?” Beberapa tahun kemudian gw pun belajar kenyataan hidup yang menurut gw aneh: demonstran yang dibayar oleh pihak-pihak berkepentingan. Tapi , gw rasa itu bukan penyebab masyarakat demo tahun ini, karena gw yakin mereka yang demo untuk protes kenaikan BBM emang demo dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Ini soal taraf hidup rakyat. Boro-boro ikut ngerayain Hari Film Nasional. But I digress.

Bukan itu topik blog post kali ini. Gw cuman inget aja kejadian 1998 gara-gara lagi banyak demo dan gw mengalami akibat dari “herd mentality” dan “herd behavior” (walaupun, gw klarifikasi dulu: gw TIDAK mengatakan bahwa demo yang terjadi belakangan ini adalah akibat herd mentality, dan gw TIDAK menuduh siapapun provokator). Kenapa gw getol sekali melakukan klarifikasi? Karena blog post kali ini terkait erat dengan akibat dari komunikasi yang kurang jelas (dan secara nggak sengaja memberi terlalu banyak ruang bagi pihak penerima komunikasi ini untuk berimajinasi terlampau jauh).

Buat yang masih belum tahu “herd mentality” itu apa, silahkan baca di sini. Singkatnya:

Herd mentality describes how people are influenced by their peers to adopt certain behaviours, follow trends, and/or purchase items. Examples of the herd mentality include the early adopters of high technology products such as cell phones and iPods, as well as stock market trends, fashions in apparel, cars, home décor, etc. Social psychologists study the related topics of group intelligence, wisdom crowds, and decentralized decision making.

Friedrich Nietzsche, a philosopher who coined the phrase, perceived these two forms of subservience to be a weakness among the common man, and that the “Superman” as Nietzsche terms is the one who overcomes the values of the fallible herd. The term herd mentality is derived from the word “herd,” meaning group of animals, and “mentality,” implying a certain frame of mind. However the most succinct definition would be: how large numbers of people act in the same ways at the same times.

Saat gw berpikir mengenai “herd mentality”, gw cenderung berpikir ke arah perilaku konsumen (dan conspicious consumption) dan inget riot/mob (kerusuhan). Soalnya “herd mentality” ini seringkali disebut juga “mob mentality.” Herd mentality itu anaknya “herd behavior” (bedanya, “herd mentality” adalah fenomena yang secara eksklusif terjadi terhadap manusia sedangkan, herd behavior itu perilaku yang dapat kita temukan pada semua binatang sosial).

Manusia itu makhluk sosial. Dan by nature (maap, saya nggak tahu gimana cara nerjemahin “by nature”) manusia suka berkelompok dan menjadi “bagian dari sesuatu” (humans like being a part of something). Kita selalu pengen jadi bagian dari satu kelompok. Kalo istilah yang paling gw suka: “we like to feel like we belong”. Kayaknya, deep down, ada perasaan bahagia gitu di kala kita merasa sendiri (misalnya loe punya minat/rencana hidup yang tidak sesuai dengan pola hidup lingkungan sekitar, kasus ekstrem: pasangan yang tidak berminat punya anak) dan tiba-tiba ada gitu satu pasangan lain yang bilang, “ih gw juga!” Rasanya lega banget.

Ditambah lagi kita orang Indonesia dan masyarakat kita sangat komunal (takut berkonfrontasi karena nggak pengen ngerusak hubungan baik). Ampun, deh. Gw aja, nih, nggak salah apa-apa aja bisa minta maaf dan nawarin ngasih kompensasi, lho! Huwahahaha. Tipikal perilaku orang Indonesia banget, kan?

Oleh karena itu, entah sadar atau di bawah sadar, seringkali kita secara naluriah akan “buru-buru ikut” menyatakan kesetujuan demi melakukan validasi (entah secara internal maupun eksternal, atau dua-duanya) bahwa kita “setuju” atau sekedar menyatakan “saya juga”. Semua ini manusiawi.

When the Herd tries to hurt the Straw Man…

Pernah dengar istilah “straw man”? Menurut Wikipedia:

A straw man is a component of an argument and is an informal fallacy based on misrepresentation of an opponent’s position. (Bahasa Indonesia: Straw man adalah komponen dari argumen yang merupakan sebuah falasi informal berdasarkan misinterpretasi dari posisi lawan.)

Buat yang nggak tahu “falasi” itu apa, penjelasan yang cukup baik itu bisa dibaca di sini (penjelasan yang terdiri atas 3 poin dengan contoh ayam yang dikonsumsi manusia itu sangat mudah dimengerti dan cukup for most to get the point, tapi gw sarankan baca seluruh isi blog post itu, karena itu blog post yang bagus banget). Tapi jangan baca dulu kalo habis makan, ya…

Cara paling mudah untuk mengidentifikasi adanya straw man? Pokoknya rule of thumb-nya, kalo sampe ada yang ngomong/mikir, “Lha? Siapa juga yang bilang begitu?” Kemungkinan besar, Anda baru saja berhadapan dengan orang yang menjadikan kita/orang lain sebagai straw man.

Seringkali ada orang-orang yang terlampau cepat berkonklusi sehingga ada falasi dan terjadi ketegangan antar penuduh dan straw man. Apalagi kalo urusannya menyangkut SARA (terutama agama, karena biasanya orang udah sensi/emosi duluan tanpa menyisihkan waktu untuk mencerna informasi dengan benar). Contoh falasi terkait dengan diskusi SARA: Ada orang yang membahas “uang hasil korupsi untuk berangkat ziarah keagamaan” dan mempertanyakan “motivasi koruptor untuk berangkat ziarah keagamaan menggunakan uang hasil korupsi.” Pihak lain menjawab dengan mengatakan “jangan nyalahin ibadahnya, dong!” Padahal jelas-jelas TIDAK ADA ada yang “menyalahkan” ibadah tersebut, toh? Justru kita marah karena ada yang menyalahgunakan ibadah (yang dianggap mulia) untuk menutupi tindakan korup. Ini contoh kasus pemojokan orang lain sebagai straw man yang lumayan kejam dan sangat tidak adil.

Nah, kebayang nggak, sih, kalo ada sebuah orang yang menyerang sebuah falasi dengan semangat herd mentality ini? Gawat banget, kan? Apalagi “herd” itu menyangkut lebih dari satu individu and terkait dengan influence. Bikin gw pengen bilang, “nggak bisa gitu, dong!”

The Herd vs. The Fallacy

The Herd vs. The Fallacy

Seperti yang gw bilang di atas, blog post ini terinspirasi oleh kejadian di mana gw menjadi target herd mentality yang disebabkan oleh sebuah falasi: Jadi ceritanya gw lagi ngobrolin fenomena sosial yang [awalnya] menurut gw janggal (orang kaya yang pura-pura miskin, menurut gw ajaib karena biasanya di kota kayak Jakarta orang malah berperilaku sebaliknya). Ini topik hybrid antara sosiologi dan psikologi. Banyak, sih, yang share cerita/hasil observasi… Tapi yang bener-bener bisa menjelaskan sebabnya nggak banyak. Sebagai catatan, obrolan ini terjadi dalam bentuk tulisan (jadi urutan siapa yang ngomong apa duluan tercatat dengan tanggal/jam).

Salah satu peserta diskusi ngomong kalo dia pernah lihat ada orang dengan mobil dua pintu (entah coupé Jepang atau yang emang bener-bener Italian sports car, nggak jelas) tapi makannya di warteg. Kronologinya kira-kira (kurang lebih, nggak verbatim) seperti ini:

Posting X: “Mobilnya dua pintu tapi makan di warteg.”
Gw: “Gw nggak ngerti deh orang yang lebih mentingin gaya daripada kesehatan, menurut gw itu udah menjurus ke arah personality disorder.” (sebenernya maksud gw orang yang lebih seneng makan mie instan/pengawet berlebihan/pewarna tekstil di makanan demi bisa beli branded items, jalan-jalan ke Europe buat shopping mau tapi berobat ke Singapore ogah, pokoknya orang yang lebih concern dengan segala sesuatu yang bisa dilihat orang lain tapi malah nggak peduli apa yang masuk ke dalam tubuh dia). Tapi gw nggak pernah bilang “warteg itu jorok” atau “warteg itu nggak sehat” karena nyatanya, I eat at those places too (and believe me, when people try to apply street food to hotels, it NEVER works, I have never seen a success story with street food in hotels/fancy restaurants). Intinya gw pengen  bilang “orang ini prioritas internal vs. eksternal-nya nggak proporsional/nggak wajar” dan perhatikan bahwa gw nggak pernah nyebut kata “warteg” sama sekali.
Posting A: Protes menyatakan ketidaksetujuan “pernyataan gw” bahwa “warteg itu nggak sehat”
Posting B: Setuju dengan A + menambahkan contoh
Posting C: Setuju dengan A
Posting D: Setuju dengan pernyataan A + tambahan opini
Posting E: Setuju dengan A
Posting F: Reaksi kurang lebih sama
Posting G: Reaksi yang juga mirip

Pokoknya urutannya kurang lebih gitu, deh. And boy did it make me look like the bad guy!

Supaya blog entry ini adil menunujukkan semua sisi, gw cuman pengen jujur dengan menyatakan bahwa:

  1. Gw memang salah karena menulis posting yang kurang jelas. Harusnya gw rinci apa maksud gw (mengenai mie instan, pewarna tekstil, dan keengganan untuk bayar biaya berobat yang rada mahal). Malah gw dengan malesnya cuman nulis “kesehatan”. Dan hari itu, gw posting dengan nggak jelas kayak gitu bukan di thread itu aja, tapi gw juga menyebabkan kesalahpahaman dengan pola yang rada mirip (nulis dengan poin loncat-locat dan tidak menjelaskan secara sistematis) di salah satu thread mengenai karir juga. I was generally absent-minded that day.
  2. Gw masih kurang ngerti gimana cara nulis “personality disorder” atau “mental illness” (dalam Bahasa Indonesia) dengan cara yang dapat dimengerti rata-rata orang dengan mudah, jadi bukan salah mereka kalo salah ngerti.
  3. Setelah gw posting hari itu, gw langsung ngejar deadline dan sempet nggak nge-check forum itu selama 1-2 hari.

Jadi, mengingat 3 poin di atas, bukan salah mereka juga kalo:

  1. Mereka salah paham, tapi gw sendiri yang menyebabkan adanya falasi mengenai opini gw terhadap warteg.
  2. Sampai sebanyak itu (5-10 orang) yang merespon gw secara negatif (karena kalo bukan karena gw ngilang sampe 1-2 hari, dan gw bales segera mungkin nggak akan lebih dari 5 orang yang respon gw). Tapi gw bisa jamin bahwa memang sebanyak itu yang respon (gw nggak nge-lebay-lebay-in cerita ini).

Jadi, gw sih nggak ada hard feelings dengan orang-orang terkait (nggak marah atau gimana), toh gw juga salah karena tidak berkomunikasi dengan sistematis dan jelas.

Memang wajar kalo ada satu orang yang diikuti orang-orang disekitarnya (kalau mau kembali merujuk ke teori binatang sosial, mereka disebut “Alpha“, entah “Alpha Male” atau “Alpha Female”). Baik itu sumber maupun orang yang sekedar komen (dan komen-nya disetujui yang lain).

Tapi ada satu kejanggalan dengan cerita ini yang bikin gw lumayan takjub, yaitu: Yang protes ke gw itu BUKAN merespon posting gw sendiri (sebagai oposan), melainkan memberi reaksi positif/reinforcement dari respon pertama yang menawarkan sebuah interpretasi (yang ternyata merupakan falasi) dari posting gw tadi. And next thing you know, terjadilah efek bola salju. Serangan terhadap gw makin kenceng… Padahal, apa sebenernya yang mereka serang? Wong, saya ndak pernah ngomong “warteg ndak sehat”. Ya, toh? Jadi mereka protes bukan berdasarkan sumber itu sendiri, melainkan misinterpretasi orang lain.

So, who’s the true Übermensch in this case? Makes you wonder…

Fenomena ini tentu nggak baru (maksud gw, bukan fenomena masyarakat yang reaktif, tapi polanya itu). Contoh: Gw nggak percaya sama iklan skin care, gw cari review-nya di beauty blog/forum, setelah baca apa yang dikatakan konsumen lain, gw baru beli. Bahkan udah beberapa minggu ini gw galau, mikir: “gw kok kalo di forum jadi bawaannya pengen belanja mulu, ya? Tapi kalo lihat dendongan di majalah nggak pengen beli… Kenapa, yah? Apakah ini peer pressure yang nggak gw sadari?” Tapi sebagai individu (sebagai manusia dan bukan korporasi), gw rada sulit menerimanya.

Regardless, karena kejadian ini, gw jadi mikir: Apakah pola herd mentality itu berbeda berdasarkan gender? Atau setidaknya terkait dengan gender? Soalnya kasus gw di atas (to my knowledge) melibatkan 100% perempuan. Secara pribadi, kalo dengar “peer pressure” gw mikirnya “cewek ABG”, kalo dengan “mob” atau “riot” mikirnya “cowok”. Maaf, ya, gw bukannya seksis, tapi itulah persepsi gw. Cuman gw jadi mikir aja, apakah ada hubungannya dengan gender?

Intinya: Tertekan oleh peer pressure dan keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu itu wajar dan manusiawi sekali. And contrary to popular belief, it has nothing to do with age! Mungkin “peer pressure” itu identik dengan ababil usia belasan. Kenyataannya? Orang-orang yang udah mapan dan berusia di atas 40 aja masih suka beli mobil simply karena tetangga sebelah baru beli. Dan nggak ngaruh juga level pendidikan kita apa, mau lulusan Ivy League, kek, mau kuliah di Oxbridge, kek, tetep aja kita makhluk sosial dan herd mentality itu natural. Biar IQ di atas standar Mensa juga kalo ternyata EQ jongkok, apa bisa survive sebagai makhluk sosial? Tapi, mentang-mentang ini perilaku manusia yang masih bisa dibilang wajar, bukan berarti naluri itu bisa selalu kita turutin. Apalagi sebagai orang dewasa yang bisa kita asumsikan punya self-control yang lebih canggih daripada anak-anak. Please read carefully and check your facts.

Sekarang pertanyaannya:

Kenapa penting untuk yakin dulu bahwa kita tidak sedang menyerang sebuah falasi?

Karena sebagai manusia, kita punya emosi. Dan kalo udah esmosi jiwa, yang keluar dari mulut kita bisa macem-macem. Dari yang sekedar kasar dan relatif harmless (kata-kata kebon binatang/panggilan asusila tanpa substansi) sampai yang bisa diperkarakan secara hukum (misalnya: pencemaran nama baik, atau sesuatu yang bisa bikin kita bertanggung jawab untuk membayar “moral and emotional distress damages”). Apalagi di kala pergaulan kita makin luas. Kalo di luar negeri, orang hire lawyer gampang bener: kayak kalo di sini kita manggil Mbok Pijet ke rumah saat masuk angin, lawyer-nya pake langganan pulak. Pergaulan makin luas, bukaan mulut pun harus makin sempit.

So, please, be careful and stay safe! And have a nice weekend, everybody.

Posted in Life, Social Media | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Etiket Social Media #4: Jangan Kayak Diktator (terinspirasi Tragedi BBM Group)

Catatan: gw aslinya pengen bikin satu blog series tentang etiket di Social Media di mana gw bahas satu per satu etiketnya. Tapi mumpung topik diktator ini lagi hangat di benak gw karena kasus di mana seorang admin (creator) BBM Group menghapus seluruh grup BBM cuma karena beliau kalah debat, maka gw memutuskan untuk nulis sekarang (soalnya berdasarkan pengalaman gw kalo kita nulis terlalu jauh sejak inspirasi datang, feel tulisannya jadi garing). Kalo diibaratkan dengan forum, ini bukan sekedar lock thread/delete thread, tapi udah nutup satu forum demi jaga wibawa. Saking marahnya, gw sampe ngomel di Twitter:
Topik kita hari ini: Pepulisi

Topik kita hari ini: Pepulisi

Topik kita di sini admin atau pihak manapun yang punya “kekuasaan sah” jenis apapun di dunia maya (tapi belum tentu “pemimpin”), for the purpose of this blog entry, kita sebut mereka “pulisi” (jamaknya: “pepulisi”).

Yang namanya lingkungan, pasti ada pulisinya. Nggak penting, lah, pulisinya ganteng/cantik. Itu nggak relevan dan itu biasanya hanya taktik untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kerja mereka yang nggak becus dan suka nyari alesan buat nilang. Yang relevan itu adalah apakah polisi ini menjalankan tugasnya dengan sesuai atau tidak. Memang, pepulisi juga manusia. But adult and mature humans have responsibilities too.

Kalo di internet, pepulisi ada macem-macem:

  • Pemerintah: Departemen Misomunikasi dan Dinformasi, legislatif
  • Penegak Hukum: Pepulisi beneran (unit cybercrime), lawyer/jaksa, hakim, dan teman-teman
  • Pemegang saham/pengiklan suatu website (berdasarkan kontrak)
  • Admin (milis, BBM group, dan lain-lain)
  • Moderator (forum online)
  • Editor (blog kolektif)

Dan persis seperti di dunia nyata, selain pulisi ini ada juga advokat (tapi dia nggak punya kekuasaan, dia cuman raising  awareness aja, macem NGO). Contoh: Internet Sehat.

Juga ada “concerned citizen” (warga peduli): Warga biasa yang peduli etiket seperti gw. Apa bedanya gw dengan pepulisi? Pertama: gw nggak punya otoritas, misalnya: power untuk menghapus posting orang (kecuali komen di blog gw sendiri, yang mana adalah wilayah pribadi gw, jadi itu memang hak gw sebagai pemilik private property). Kedua: gw berurusan dengan etiket. Etiket itu tidak sama dengan hukum/aturan di milis/forum, misalnya. Kalau enggan menaati etiket, ya, monggo. Nggak bakalan sampe dipenjara memang, tapi sanksinya sanksi sosial.

Macem-macem, lah. Nah. Pada dasarnya tugas dan kewajiban pepulisi ini adalah menjaga agar segala hukum, aturan, dan etiket yang kita bahas di seri etiket ini ditaati oleh warga internet. Tapiiii… Ada tapinya, nih. Para pepulisi ini juga bisa melanggar prinsip kesopanan (dan keadilan) dengan cara mereka sendiri. Yaitu…

Dengan menjadi seorang diktator. Apa bedanya diktator (bad cop) dengan pulisi (good cop)? Diktator nggak demokratis. Itu satu. Kedua: diktator biasanya juga nggak profesional (KKN, chronism, gemar menyalahgunakan kekuasaan… Pokoknya hanya mementingkan kepentingan sendiri/golongan).

Smiling General: Cengar-cengir, cengar-cengir... DOR!

Smiling General: Cengar-cengir, cengar-cengir… DOR!

Nah mending kalo pulisinya emang galak dari sononya atau tipikal bossy/megalomaniak online (pelampiasan karena dalam kehidupan nyata dia rada loser). Yang paling bahaya tuh pulisi internet macem Alm. Soeharto. Mukanya senyum, ramah. Tahu-tahu loe “dihilangkeun” aja. Posting loe di-dor. Hehehe.

Ciri jenis pertama (similing general) ini: Tahu-tahu tanpa ba-bi-bu karya loe ilang atau loe di-ban. Nggak ada warning (strike one, strike two, strike three) akun loe dikenakan sanksi. Lebih nyebelin lagi kalo dia nggak ngasih tahu yang bersangkutan salah apa (lha apanya yang mau dikasih tahu, wong, sentimen pribadi… Kalo pulisinya ngaku, apa nggak ilang muka tuh). Pokoknya udah persis deh kayak petrus.

Jenis kedua adalah tipe double standard (analoginya: bayangin aja

Chronism: "Hey you! User jelata! Only my friends and inner-circle get to do that! Now get back to work! Mau sok-sok social climbing, dia... Hahaha!"

Chronism: “Hey you! User jelata! Only my friends and inner-circle get to do that! Now get back to work! Mau sok-sok social climbing, dia… Hahaha!”

gaya hidup elit partai di Korea Utara, temen-temenya Alm. Kim Jong-il). Pokoknya patokan bertindak pulisi kayak gini bukan lagi logika melainkan kepentingan pribadi/golongan. Awalnya ngadepin yang kayak gini pasti bikin bingung: nggak salah apa-apa tahu-tahu diberi sanksi, giliran temen deket si pulisi bikin salah kok nggak diapa-apain?

Yang paling rentan sama beginian emang forum online, soalnya kelompok admin/moderator ada yang:

  1. Dibentuk pertemanan (admin milih temen sendiri sebagai moderator, sekelompok temen bikin komunitas online)
  2. Di-hire oleh website/forum yang dikelola secara profesional
  3. Mencalonkan diri secara demokratis
  4. Dipilih oleh admin berdasarkan merit

Jadi emang secara harfiah komunitas online itu politis. Yang paling rentan jadi diktator adalah tipe admin/moderator nomor 1. Dia bisa memperlakukan user “jelata” dengan semena-mena cuman karena dia nggak suka (lantas temennya juga ikut-ikutan nggak suka, kayak anak SMA). Terjadilah perlakuan tidak adil dan bias.

Tapi nggak semua komunitas online busuk begini kok. Ada yang demokratis: user didorong mencalonkan diri sebagai moderator (ini forum beneran lho bikin “call for expression of interest”, gaya banget emang… Hehe), lalu pemilu-nya lewat poll. Ada juga yang dipilih berdasarkan track record (biasanya user dengan posting berkualitas dan/atau minim pelanggaran). Dan jangan harap bisa seenaknya sama user tanpa dasar: karena moderator macem begini bisa juga dilengserkeun oleh kudeta user yang ngerasa moderator nggak adil.

Jenis pepulisi nakal yang ketiga adalah tipe “dewa”. Seperti gw bilang tadi di atas “pulisi online juga manusia”. But here’s the twist: kadang mereka sendiri nggak nyadar kalo mereka manusia (udah kayak psychological thriller). Mereka menganggap diri mereka dewa yang nggak bisa salah (atau at least nggak boleh kelihatan salah). Padahal kayaknya dewa di mitologi budaya manapun juga bisa salah, kan?

Sekalinya kalah argumentasi, trail diskusi di Yahoo! Groups atau Google Groups langsung dihapus dari archive dan email argumen-argumen melawan dia, nggak dianggep, tiap ada yang masuk, hapus (kalo enggak, setting-nya diganti jadi semua pending sebelum dia approve). Atau kalo mau tahu yang lebih parah: pernah ada diskusi di forum berlangsung sampe 11 halaman. Rame tuh, terus di halaman ke-10 seorang moderator mulai nimbrung. Masalahnya, si moderator nggak ngerti masalah/nggak menguasai topik. Hahahah. Jadinya dia kalah argumentasi mulu (lha wong yang lain rajin ngasih link referensi, sedangkan dia asal jeplak). Malu dong? Dan… Mending kalo thread-nya cuman di-lock/posting memalukan dia dihapus, ini thread-nya sekalian dihapus. Gw bener-bener nggak respek kalo sama moderator yang suka hapus-hapus post (apalagi thread) karena dia kalah argumentasi. Nggak dewasa banget, toh? Kesannya males mikir, nggak bisa berbesar hati, dan menyalahgunakan kekuasaan. Udah, deh… Kayak hakim-hakim yang belakangan kata berita kehilangan wibawa.

Sebenernya gw sebagai user jelata  bisa kok tetep menghormati moderator kalau mereka melakukan kesalahan-kesalahan tipikal manusia, they’re only human. Justru respek gw langsung luntur seketika saat mereka mulai otoriter untuk jaga wibawa. Apalagi kalo user lain sampai bertanya-tanya “kenapa?” (Karena kalo mereka sampe bertanya, berarti pelanggarannya juga nggak jelas apa). Nggak bisa gitu, dong!

Mungkin susah ya nerima perlakuan nggak adil dari pepulisi online. It’s like we’re at their mercy, and I can tell you: it’s really not a good feeling. Tapi gw belajar mengerti melihat segala sesuatu dari sisi lain. Online police yang perilakunya otoritarian, reaktif, dan lebay seperti contoh yang gw kasih di atas either: melampiaskan rasa frustrasi karena di kehidupan nyata mereka insignificant people yang kurang mendapat recognition (kayaknya tiap gw usut dan coba gw cari tahu tentang oknum bersangkutan emang gini), emang dasarnya egonya gede, atau mengalami semacam post-power syndrome (misalnya: dia dulu kerja full-time dengan hasil pencapaian yang konkret/jelas, sedangkan sekarang dia nggak punya takaran untuk mengukur keberhasilan kegiatan dia sekarang). Lagi-lagi kita membicarakan social media sebagai cara untuk menegaskan eksistensi dalam hidup kita.

Tapi gw kasih contoh yang nendang nih ya: kasus BBM Group yang menginspirasi gw untuk bikin posting ini oknumnya adalah orang yang aktif di partai! Dan kelihatannya dia ada niat-niat pengen mencalonkan diri suatu hari nanti.

Dalam hidup gw dan sejak gw pake internet dari tahun 1997, udah nggak terhitung berapa kali gw berurusan dengan online dictator (kayaknya tiap tahun gw pasti kena at least sekali). Dari yang sekedar bossy (WhatsApp gw mulu, nyuruh-nyuruh gw) sampe yang paling recent terjadi (February 2012): urusan sepele di mana thread di-lock karena menyentuh hati bikin tersinggung moderator secara personal (udah biasa dan nggak kaget lagi, bahkan kalo thread gw di-lock tanpa alesan yang cukup valid, gw juga udah males nanya-nanya, gw pasrahin aja… Apalagi kalo topik forumnya ringan/sepele dan isunya bukan urusan hidup mati). Dan sejak tahun 2000 di mana internet mulai rame sama orang Indonesia sampe sekarang, polanya tetep nggak mutu begini! Hahaha.

Tapi kali ini, gw nggak bisa diem aja karena ini orang yang ada niat untuk terjun di dunia politik dan akan menentukan kesejahteraan orang banyak. Kan gawat. Ini, kah, contoh yang pengen kita kasih ke generasi berikutnya: bahwa kekuasaan itu segalanya dan manusia nggak perlu punya kerendahan hati untuk mengaku salah? Gw aja yang bukan seorang ibu (gw nggak punya anak) aja ngeri dengan segala contoh jelek yang sering kita kasih ke anak-anak.

Anyway, saran gw kalo ngadepin pepulisi kayak gini: ngalah aja. Mereka punya power, loe enggak. Untungnya perbuatan mereka nggak (terlalu) melanggar HAM dan nggak secara fatal melanggar hak bicara loe. Tapi inget ya… Jadi user nggak boleh bodoh, loe boleh ngalah, tapi nggak boleh nggak tahu!

Gawatnya, kita nggak bisa menuntut para pepulisi untuk bersikap “profesional” kalau komunitas yang mereka bangun emang sejak awal nggak dibentuk untuk dikelola secara profesional (ini kayak nyuruh anak umur 4 tahun yang harusnya seneng-seneng di TK untuk belajar baca kayak anak kelas 1 SD, atau nyuruh anak magang yang nggak dibayar untuk kerja full-time). Nggak adil buat mereka juga. Lain halnya kalau mereka memang berniat menjalankannya sebagai “business venture”, tapi biasanya gw emang tetep nggak kontak mereka untuk give them a piece of my mind… I just let them make fools of themselves. Hahaha. Jahat memang, but I just don’t have the time for it (dan gw bukan konsultan komunikasi mereka, gitu lho… Mendingan ngurusin client gw, ketahuan bakalan didenger! Hahaha).

Nah. Kalo udah gini, bodo amat tuh pulisi mau cantik atau ganteng. Pokoknya gw nggak suka. Memang, bisa dibilang “pepulisi juga manusia”. Tapi pertanyaannya: siapa yang ngawasin pepulisi ini? Harusnya ada versi internet-nya Police Watch, ya. LOL.

Foto para diktator ceria diambil dari: sini dan sini.

Posted in Social Media | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Don’t Rich People Difficult

Translation: Jangan Kayak Orang Susah

Translation: Jangan Kayak Orang Susah

Jadi kepengen bikin screenplay pendek berdasarkan blog entry gw tentang eksis. Cuman kayaknya gw mesti goreng sel otak dulu. Karena visualisasinya pasti rempong tiada tara, deh. Kalo udah mentok banget dan nggak ada waktu, paling juga ujung-ujungnya jadi cerpen (lagi). Capek deh. I guess that’s why when people make films based on books, a lot content gets “lost in transition” from book to film. Soalnya bikin narasi emang jauh lebih gampang… Bikin film susah. Download bajakan gampang. Filmmaker-nya jadi hidup susah. Nggak bisa gitu, dong…

Mengenai foto: Foto ini beredar luas di BBM Groups. Nggak jelas siapa fotografer-nya, siapa pelukis truknya, maupun siapa pemilik truk. Apabila Anda pemilik foto/truk, please contact me so I can credit you properly. Makasih…

Posted in Nyambi & Ngobyek | Tagged , , , , , | Leave a comment

Mau eksis? Nggak bisa gitu, dong…

Di Indonesia (terutama di Jakarta), banyak banget, ya, orang yang mempergunakan kata/istilah asing (terutama dari bidang psikologi) dalam bahasa gaul untuk mendeskripsikan keadaan/situasi/mentalitas yang sebenernya nggak ada kaitannya dengan kelainan psikologis (psychological disorder) atau health condition, atau apapun arti sebenarnya kata tersebut. Misalnya: “shopaholic” (untuk menggambarkan conspicuous consumer), “narsis” (orang dengan gejala NPD tapi seringkali belum didiagnosa), “autis” (padahal penggunaan kata ‘autis’ ofensif terhadap kaum difabel), dan sebagainya.

Kalo mau nyambung-nyambungin istilah “eksistensialis” (dalam konteks filsafat, “eksistensialisme”") dengan penggunaan istilah “eksis” (dari “exist”, “existence”) dalam bahasa gaul Jakarta untuk menggambarkan “online presence” di social media, jadi sedih ya? Hahahaha.

Søren Kierkegaard getol nge-tweet... Buat ngebuktiin kalo dia lebih Übermensch dari Nietzsche... #PerilakuTipikalAbabilKompetitif

Søren Kierkegaard getol nge-tweet... Buat ngebuktiin kalo dia lebih Übermensch dari Nietzsche... #PerilakuTipikalAbabilKompetitif

Kesannya orang nggak exist gitu di dunia nyata sebelum dia posting di social media, yang menentukan eksitensinya dia adalah presence dia di social media. Jadi nggak papa kalo lagi ngumpul-ngumpul tapi orang di sekitar loe nggak lihat loe di situ (soalnya loe di toilet nge-tweet “gw lagi di party Si Ini dan Si Anu”). Nggak papa juga loe bukan clubber, yang penting di Foursquare loe bisa check-in untuk bilang loe lagi di Dragonfly. Ya, nggak? Ya, nggak? Akibat keinginan untuk dapet pengakuan dari temen (friends that aren’t even good for you in the first place) yang masih tetanggaan sama peer pressure. Kalo udah ‘dilegalisir’ di SocMed, semuanya kegaulan imajiner itu langsung menjadi kenyataan. It’s like your actions are meaningless unless you tweet about it, your life is meaningless until it becomes a Facebook status, and you’re not actually there until you check-in on Foursquare. Sebelum itu, it never happened. It’s all in your head. Kayak orang kalo bilang “picture, or it never happened” cuman setingkat lebih pathetic.

Ai hep discerning taste in music... Yu no?

Ai hep discerning taste in music... Yu no?

Kesian deh loe.

Foto aslinya eksis di: http://en.wikipedia.org/wiki/File:S%C3%B8ren-Kirkegaard-Statue.jpeg

Posted in Life, Social Media, Tak Habis Pikir | Tagged , , , , , , , | 2 Comments

Keluar dari comfort zone gw (yang sebenernya kalo mau jujur) dari dulu juga nggak comfortable-comfortable amat, sih…

Kemarin gw akhirnya memberanikan diri untuk melakukan sesuatu dengan cara berbeda. Ini salah satu hal yang dari dulu sampe sekarang seriiiing banget bikin Mr. NBGD mengatakan the magic words: “Nggak bisa gitu, dong…” (Belakangan dia belajar nambahin “say” di belakangnya. Asli kalo over the phone kocak). Hahahaha.

A very uncomfortable place... That moves!

A very uncomfortable place... That moves!

Emang bener tuh semua orang bilang gw harus berani berubah. Harus keluar dari comfort zone. Padahal aslinya tuh comfort zone emang dari dulu nggak nyaman-nyaman banget, sih. Gw-nya aja yang dongo. Takut bergerak. Kenapa nggak dari dulu-dulu, sih?  Stupid loe. Hahahaha. Malah, bisa dibilang what I’ve put up with has been a major source of discomfort (maap, gw terpaksa ngomong Indolish karena nggak bisa nemu padanan kata yang cukup nendang… Kayak kata “sungkan” yang kalo dibilang “malu karena sadar tata krama”, “risih”, atau “tahu diri” aja nggak akan pernah memadai… Gw harus ngomong Bahasa Jawa aslinya, yaitu: “sungkan”).

Kemarin juga gara-gara ikut thread “What Will You Do IF You Have Lots of Money and Don’t Have to Work?“, gw tersadar ini bukan pertama kalinya gw berusaha (dengan takut-takut) keluar dari comfort zone gw dan sesuatu yang baik terjadi pada akhirnya. Bahkan, gw berani bilang setiap kali gw berusaha keluar dari comfort zone, kayaknya sesuatu yang baik terjadi setelahnya. Nggak pernah enggak. Gw nggak bilang comfort zone selalu jelek, tapi dalam hidup gw, so far emang begitu.

Beneran, deh. Ask yourself: Is your comfort zone really that comfortable? And be honest when you answer the question.

Gambar ngambil punya orang. Ini orangnya: http://www.chestees.com/funny-t-shirts/2/a-very-uncomfortable-place/

Posted in Life | Tagged , , , | Leave a comment